Langsung ke konten utama

Perlukah Industri Alat Berat Nasional Diproteksi? oleh - sewabekomurah.xyz

Halo sahabat selamat datang di website sewabekomurah.xyz , pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Perlukah Industri Alat Berat Nasional Diproteksi? , kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca Hydraulic excavator CASE yang diageni oleh PT Altrak 1978 (Foto: CASE) Industri alat berat Indonesia tidak asing lagi dengan yang namanya krisis ekonomi. Dalam dua dekade terakhir, sedikitnya ada tiga gejolak ekonomi yang membuat industri yang padat modal ini kelimpungan. Pada saat krisis moneter (krismon) 1998, yang dipicu oleh gejolak nilai tukar mata uang Rupiah terhadap USD yang kemudian berubah menjadi krisis ekonomi, banyak pemain alat berat terpaksa gulung tikar. Beberapa dari mereka mengubah  komposisi kepemilikannya agar tetap eksis di pasar Indonesia. Selang 10 tahun setelah itu (2008), gejolak ekonomi kembali terjadi karena efek dari krisis ekonomi global yang bermula dari kebangkrutan beberapa lembaga pemberi pinjaman sep

Perlukah Industri Alat Berat Nasional Diproteksi? oleh - sewabekomurah.xyz

Halo sahabat selamat datang di website sewabekomurah.xyz, pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Perlukah Industri Alat Berat Nasional Diproteksi?, kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca

Hydraulic excavator CASE yang diageni oleh PT Altrak 1978 (Foto: CASE)

Industri alat berat Indonesia tidak asing lagi dengan yang namanya krisis ekonomi. Dalam dua dekade terakhir, sedikitnya ada tiga gejolak ekonomi yang membuat industri yang padat modal ini kelimpungan. Pada saat krisis moneter (krismon) 1998, yang dipicu oleh gejolak nilai tukar mata uang Rupiah terhadap USD yang kemudian berubah menjadi krisis ekonomi, banyak pemain alat berat terpaksa gulung tikar. Beberapa dari mereka mengubah  komposisi kepemilikannya agar tetap eksis di pasar Indonesia.

Selang 10 tahun setelah itu (2008), gejolak ekonomi kembali terjadi karena efek dari krisis ekonomi global yang bermula dari kebangkrutan beberapa lembaga pemberi pinjaman seperti  Lehman Brothers di Amerika Serikat, yang memberikan dana kepada para peminjam yang sebenarnya tidak mampu membayar. Dalam tempo singkat krisis itu menjalar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Namun, kedua badai ekonomi itu sudah menjadi sejarah masa lalu, yang menjadi pelajaran berharga bagi kondisi masa kini.

Memasuki tahun 2020, dunia digentarkan oleh wabah penyakit mematikan, Covid-19, yang menjalar liar ke berbagai penjuru dunia dengan gejala-gejala yang tidak kasat mata. Celakanya, hingga kini para ahli belum temukan vaksin untuk menangkis virus yang mematikan ini. Serangan Covid-19 memaksa warga dunia mengurung diri di dalam rumah selama berbulan-bulan, menjaga jarak fisik (social distancing) dan masih banyak lagi "tabu" sosial lainnya. Kondisi tersebut membuat kegiatan ekonomi berhenti, termasuk pengerjaan berbagai proyek yang mengandalkan aplikasi peralatan berat.

Meski sejak awal Juni 2020 Pemerintah Indonesia sudah melonggarkan aturan-aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dengan memberikan kesempatan pada sejumlah besar industri untuk kembali beraktivitas dengan protokol kesehatan yang ketat, namun kondisi perekonomian Indonesia belum menunjukkan perubahan signifikan. Pasar alat berat/konstruksi, misalnya belum juga menunjukkan peningkatan.

Ketua Hinabi, Jamaluddin, mengakui krisis ekonomi global 2020 yang dimantik oleh pandemi Covid-19 ini memiliki magnitude yang lebih luar biasa dibandingkan krisis 1998 dan 2008. "Kami cukup waspada," ujarnya saat menjadi pembicara dalam acara Zoom Webinar Equipment Indonesia, Rabu (1/7/2020).

Sebelum wabah Covid-19 merebak, Hinabi sudah memproyeksikan kebutuhan alat berat pada tahun 2020 akan turun. Namun, menurut Jamaluddin, pandemi ini membuat kondisinya makin suram. Produksi alat berat di Indonesia pada 2019 hanya 6.060 unit, turun 24% dari 7.981 unit pada 2018. Proyeksi awal Hinabi untuk produksi alat berat tahun 2020 ini turun sekitar 7%. Namun, setelah muncul Covid-19, diprediksikan penurunannya mencapai 52%, masing-masing 45% dampak Covid-19 dan 7% proyeksi di rencana awal.

Penurunan produksi alat berat oleh industri dalam negeri merupakan dampak ikutan dari penghentian sejumlah besar proyek pembangunan infrastruktur dan gejolak harga komoditas tambang, khususnya batu bara. Dalam kondisi saat ini, banyak proyek konstruksi sektor swasta yang ditunda atau bahkan dihentikan sama sekali karena dianggap tak lagi visible. Seperti proyek pembangunan mal atau properti.

Sebetulnya kondisi krisis seperti saat ini menawarkan peluang bagus bagi bisnis rental. Kebutuhan peralatan dari kontraktor-kontraktor yang masih punya pekerjaan tetapi tidak mampu investasi alat sendiri dapat disuplai oleh jasa rental. Namun, pebisnis rental nasional harus bertarung dengan perusahaan-perusahaan rental asing.

Eka Kesia, dewan pembina Asosiasi Pengusaha dan Pemilik Alat Berat dan Konstruksi Indonesia (APPAKSI) mengakui saat ini banyak perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang menjalankan bisnis peyewaan alat berat di Indonesia. Padahal, harusnya, perusahaan asing tidak bisa menyewakan alat berat di sini.

Mantan Ketua APPAKSI, Syahrial Ong, yang kini aktif di Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi, menyarankan lembaga-lembaga asosiasi-asosiasi terkait seperti Hinabi, APPAKSI, PAABI Hinabi dan PAABI beserta Kementerian Perindustrian dan BKPM harus duduk bersama dengan Kementerian PUPR untuk mengatur ekosistem industri alat berat secara keseluruhan.

Selama ini APPAKSI mengalami kesulitan karena ekosistem industri alat berat tidak diatur secara keseluruhan  oleh pemerintah. Akibatnya, yang dihadapi oleh APPAKSI di lapangan adalah tidak hanya adanya perusahaan PMA di bisnis penyewaan alat berat, tetapi proyek-proyek yang melibatkan kontraktor-kontraktor asing justru membawa alat sendiri dari luar. Kalau makin banyak alat asing yang masuk, apalagi kalau proyek-proyek besar dikuasai kontraktor-kontraktor luar, maka pemain-pemain lokal akan menjadi penonton atau pemain yang kurang diperhitungkan. Di sinilah pentingnya industri alat berat nasional dilindungi. EI

589 kali dilihat, 9 kali dilihat hari ini

Itulah tadi informasi mengenai Perlukah Industri Alat Berat Nasional Diproteksi? dan sekianlah artikel dari kami sewabekomurah.xyz, sampai jumpa di postingan berikutnya. selamat membaca.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Utility Expo, formerly ICUEE, will be in Louisville through 2029 oleh - sewabekomurah.xyz

Halo sahabat selamat datang di website sewabekomurah.xyz , pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar The Utility Expo, formerly ICUEE, will be in Louisville through 2029 oleh - sewabekomurah.xyz , kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca The Utility Expo , formerly ICUEE, will be in Louisville through 2029, says the Kentucky Exposition Center. Produced by the Association of Equipment Manufacturers, The Utility Expo is scheduled to take place Sept. 28-30, 2021. More than 19,ooo attendees are expected to explore more than 30 acres of equipment next year. “We’re excited to return to Louisville with our new name. There is no better place to continue to host this experience,” said John Rozum, show director for The Utility Expo. “We look forward to coming home to Louisville in 2021.” The show began in the mid-1960s when Illinois Bell invited 12 trencher manufacturers to demonstrate their equipment in an Elburn, Illinois,

Easy Construction Equipment Hauling: Get competing freight bids, based on exact machine dimensions, with VeriTread oleh - sewabekomurah.xyz

Halo sahabat selamat datang di website sewabekomurah.xyz , pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar Easy Construction Equipment Hauling: Get competing freight bids, based on exact machine dimensions, with VeriTread oleh - sewabekomurah.xyz , kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca Construction equipment is constantly on the move. It has to be transported, whether from a manufacturer, dealer, rental company, auction company, contractor or just from job to job. And it doesn’t come in a neat shipping container. It can require specialized equipment to load and transport, special permits, a pilot car and/or adherence to port protocols, all at a price tag that can be an unpleasant surprise.  Not to mention that each state has its transport rule quirks and that the machine may have been modified in ways that change transport dimensions and weight, none of which are on a standard spec sheet. Finally, who do you trust to efficie

How the First Caterpillar Tractor Ever Built — Serial # EXP 0000-L — Was Rescued and Restored oleh - sewabekomurah.xyz

Halo sahabat selamat datang di website sewabekomurah.xyz , pada kesempatan hari ini kita akan membahas seputar How the First Caterpillar Tractor Ever Built â€" Serial # EXP 0000-L â€" Was Rescued and Restored oleh - sewabekomurah.xyz , kami sudah mempersiapkan artikel tersebut dengan informatif dan akurat, silahkan membaca Matt Veerkamp with the Caterpillar Tractor Company’s first Twenty; also the first tractor that was entirely made by the new company. Editor’s note : We’re excited to introduce Collector’s Corner,  a new ongoing series of articles by Equipment World  in which collectors of antique construction equipment talk about their favorite finds. If you’ve got a special piece of vintage equipment you’d like featured, email Don McLoud at   DonMcLoud@randallreily.com . Matt Veerkamp was on a parts search 13 years ago in Arbuckle, California, when he was asked to take a look at a rusty old Caterpillar Twenty. Matt wasn’t too excited about the offer,